Tampilkan postingan dengan label Adat Istiadat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adat Istiadat. Tampilkan semua postingan
Rabu, 04 Maret 2015
Balimau Kasai
dan pada tahun 80'an pada masa pemerintahan Bupati Bapak Syarifuddin diangkatlah Balimau Kasai di Desa Batu Belah ini ke tingkat Kabupaten Kampar dan di tahun 96 menjadi tingkat Provinsi Riau,dan d tahun 2000 menjadi ivent wisata tahunan di akui d Menteri Pariwisata Republik Indonesia,jd seharusnya tdk ada alasan Bupati dan Gubernur u tdk Hadir di Balimau Kasai di Desa Batu Belah. tp syg srt keputusan itu entah kmn skrg rimbanya.
adapun kegiatannya selain bermandikan Limau dan Kasai, lbh d knl yaitu PAWAI SAMPAN HIASnya. yg pda awalnya hya mggnkn akik akik yg terbuat btg pisang yg d mli dr simpang batu belah hga k ujung batu belah yg skrg d knl dgn Anjungan Dermaga Balimau Kasai,Batu Belah. tp skrg sdh mgggnkn sampan dan berbentuk bangunan yg jd ajang mengasah skill jg kemampuan dlm seni dan kreatifitas dan selalu di tunggu2 tiap tahunnya,yg d mulai/Start ILIU dr Lurah Simpang Pulau,Bangkinang Seberang dgn jrk tmph d dlm air sktr 12 km dgn wkt 3 jam yg Finish d Desa Batu Belah...
adapun tntg sampan hias ini pesertanya adalah asli org batu belah sendiri,prnh pesertanya ada hga mncpi 30 sampan hias dan jg d ikuti olh yg Iliu dgn Benen yg jg prnh mencapai 10 ribuan peserta d tiap tahunnya. sambil menunggu sampan hias tiba, di anjungan d isi berbagai macam acara ceremony yg berkaitan dgn Balimau Kasai.
mmg tak dpt d pungkiri byk perubahan dan pergeseran d tiap tahun pelaksanaan Balimau Kasai d desa batu belah ini, dan jg kekurangan pastinya krn pengaruh jaman dan krg peduli dan perhatiannya pemerintah. tp kami sebagai warga batu belah ttp akan menjaga tradisi ini hga sampai nanti dan memperbaiki yg krg,harapan tentu menjadi lbh baik d tiap tahun pelaksanaannya. mola dek lai bamosamo!!!
terima kasih atas perhatiannya, mhn maaf klu ada kkrgn dlm memberi info dan kslhn dlm penulisannya. di tunggu kehadirannya di acara BALIMAU KASAI TINGKAT KAB.KAMPAR Tahun 2013 di Desa Batu Belah di hari Minggu, 7 Juli 2013...
bersumber dr: Datuok Binuong Sati/ Bapak H.Jasmiran Domo...
Lanjut Baca >>
Ziarah Kubur
Ziarah Kubur adalah salah salah satu kegiatan yang sering di lakukan
untuk mendoakan mereka yang sudah mendahului kita. Biasanya di lakukan
setiap bulan ramadhan dan juga setelah lebaran. Di Kabupaten Kampar,
tepatnya di Kecamatan Bangkinang, Ziarah kubur juga sering di lakukan
dan sudah menjadi salah satu event dan juga tradisi bagi masyarakat Ocu
Kampar.Kegiatan ini di lakukan sekali setahun. Di mulai dengan berkumpul di tempat yang di tentukan dan berjalan dari kuburan ke kuburan lainnya untuk memanjatkan doa bagi keluarga kita yang bersemayam di sana.
Untuk ibu-ibu dan kaum hawa biasanya mereka akan menyiapkan makanan atau jambau untuk menyambut para laki-laki sepulang dari ziarah. Jambau biasanya di letakkan di mesjid untuk di nikmati bersama-sama oleh para peziarah.
Ziarah Kubur di mulai dari pukul 06.00 pagi hingga jam makan siang. Di Bangkinang atau biasanya di sebut dengan bangkinangs eberang ada beberapa rute atau kampong yang sering mengadakannya. Tapi menurut saya sih yang anggota peziarahnya yang terbesar adalah di kampung pulau. Karena kebanyakan orang kampung pulau yaitu tepi air, pulau bodi, salo seberang, dan rona pulang kampung setelah hari raya idul fitri dari perantauan makanya sangat ramai ketika ziarah kubur atau juga di sebut dengan hari raya 6 ini.
Nah itu dia tu sepintas gambaran dari hari raya 6 atau ziarah kubur yang sering di adakan di Bangkinang. Tapi tidak semua daerah di bangkinang yang mengadakannya lohhh biasanya yang sering mengadakannya hanya di daerah kec. Bangkinang atau bangkinang seberang. Dan ini sudah di lakukan turun temurun.. berikut saya kasih photo-photo yang lumayan kece ketika kegitan ini berlangsunggg… :D sekian dulu episode ocuisme kali ini.. yeahh ocu is me!!.. :D see yaa…
Lanjut Baca >>
Suku Ocu
Masyarakat
Ocu berbicara dalam Bahasa Ocu, yang dikategorikan sebagai bagian dari
Rumpun Bahasa Melayu. Hanya saja bahasa Ocu diperkirakan lebih tua dari
bahasa Melayu Daratan. Mayoritas masyarakatnya beragama Islam, diikuti
oleh Protestan, Katolik, Budha, dan Hindu. Masyarakat Ocu
bermatapencaharian dari sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan.
Kepastian
mengenai asal-usul suku Ocu belum jelas karena terdapat beberapa
pendapat. Ada yang mengatakan bahwa suku Ocu berasal dari orang-orang
Minangkabau Sumatera Barat. Pendapat ini dikemukakan karena letak
pemukiman suku Ocu berbatasan langsung dengan provinsi Sumatera Barat.
Beberapa budaya, adat istiadat, bahasa, struktur pemerintahan, hingga
gaya bangunan juga memiliki kemiripan dengan budaya Sumatera Barat.
Di
samping itu juga, bila menengok sejarah masa lalu, wilayah suku Ocu
merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Pagaruyung. Walaupun banyak hal
yang bisa dikatakan mirip antara budaya Ocu dan Minangkabau, justru
masyarakat suku Ocu membantah dan menyatakan bahwa mereka bukan
keturunan orang Minangkabau. Apalagi disebut sebagai orang Minangkabau.
Bagi mereka, karakter dan kebiasaan orang Ocu sangat berbeda dengan
orang Minangkabau.
Pendapat
lain mengatakan bahwa orang Ocu berasal dari keturunan orang Melayu
Daratan. Pendapat ini didasarkan atas kesamaan karakteristik masyarakat
Ocu di kabupaten Kampar, dengan adat dan kebudayaan di beberapa
kabupaten di provinsi Riau yang didominasi masyarakat Melayu.
Dalam
adat Kampar, anak pertama oleh saudara-saudaranya dipanggil dengan
sebutan Uwo (berasal dari kata Tuo, Tua, yang paling tua). Anak kedua
dipanggil oleh adik-adiknya dengan kata Ongah, yang berasal dari kata
Tengah, artinya anak yang paling tengah, atau anak kedua. Sedangkan anak
yang ke tiga dipanggil oleh adik-adiknya dengan nama Udo, atau anak
yang paling Mudo atau yang paling Muda.
Untuk
anak yang keempat, baik laki-laki maupun perempuan dipanggil dengan
Ocu. Kemungkinan besar berasal dari kata Ongsu, dalam bahasa Indonesia
berarti bungsu atau anak yang bungsu (terakhir). Anak kelima dan
seterusnya juga berhak untuk disapa dengan Ocu. Penyebutan seperti itu
juga berlaku dalam adat Ocu dan Melayu Daratan.
Tidak
hanya dalam struktur kekeluargaan saja kata Ocu digunakan, tapi
digunakan pula bagi anak-anak yang lebih muda kepada teman, kerabat dan
sanak keluarga. Seperti anak muda kepada yang sedikit lebih tua dari
pada dirinya.
Kata
ini juga dipakai sebagai panggilan kehormatan dan kebanggaan—bukan
panggilan kebesaran seperti gelar adat—bagi orang Kampar. Dengan
demikian, selain nama suku, Ocu juga bisa merujuk pada nama wilayah,
suku, bahasa, adat, sebutan atau nama panggilan dan panggilan kebanggaan
bagi orang-orang di Kampar.
Lanjut Baca >>
Langganan:
Postingan (Atom)